Passion #4




Sepeda Dari Pak Tarno

Veasna mendatangi kamar nenek. Hatinya gelisah memikirkan permintaan ibunya untuk berheni bekerja. Ada pergolakan bathin dalam dirinya.

Sambil menunggu neneknya menyelesaikan sholat malam. Veasna menyandarkan tubuh kurusnya di dinding yang catnya telah terkelupas, sedang Nenek begitu khusuk dalam sholatnya,


Setelah nenek selesai menunaikan sholatnya, dia meminta Veasna duduk didekatnya.

 “Nek…….menurut nenek, apa yang harus Veasna lakukan?” tanyanya dengan perasaan tak menentu.

Nenek sepertinya tahu tentang kegelisahan Veasna. Perempuan tua itu mengerti Veasna ingin melanjutkan sekolahnya, namun disatu sisi, memperoleh uang sendiri membuatnya nyaman.
Nenek mengusap punggung tangannya, lembut.

“Apa yang paling diinginkan Veasna, sekolah atau bekerja?

“Keduanya nek, Veasna mau sekolah, dan Veasna mau bekerja. Veasna ingin membantu meringankan beban ibu. Uangnya nanti bisa untuk biaya sekolah Veasna, buat beli beras, serta buat jajan Kya dan Kissa” kata Veasna tercekat. Ia teringat dengan mata Kya dan Kissa, saat melihat teman-temannya makan ice cream, dan mereka hanya bisa menatapnya, karena ibu maupun nenek tidak punya uang untuk membelikan mereka ice cream.

“Kalau kamu bisa menjalankan keduanya, bagus. Lakukan itu. Asal dengan satu syarat. Sekolahmu tidak boleh keteteran dan kamu harus jaga kesehatan” Perempuan itu menarik nafas panjang, dia kasihan melihat cucunya, harus ikut menanggung beban keluarganya.Namun di satu sisi, dia bangga melihat Veasna, sangat mengerti keadaan keluarganya.

“Tapi….nek, bagaimana dengan ibu?”

“Nenek nanti akan menjelaskan pada ibumu. Sekarang tidurlah. Besok pagi kamu harus sekolah.”

Veasna mengangguk, beban di pundaknya terangkat. Besok pagi-pagi dia akan menemui Pak Mul, bossnya. Lalu dia meletakkan kepalanya diatas bantal tipis. Beberapa detik kemudian dirinya sudah terbang kealam mimpi.
***
Veasna melangkahkan kakinya kesekolah dengan semangat baru. Apa yang dikhawatirkannya semalam, tak terjadi. Pak Mul tetap memperkerjakannya di warung makan, sebagai pencuci piring. Sedangkan untuk pekerjaan menjadi badut, Pak Mul akan mencari pengganti dirinya. Veasna menerimanya dengan sukacita. Dan berjanji akan bekerja lebih keras lagi.
Sebuah tepukan mengejutkan Veasna. Veasna menoleh, dan tersenyum saat melihat Zamrony dibelakangnya.

“Aku senang, kamu akhirnya bisa sekolah lagi Veas.” Ucapnya sambil memperlihatkan giginya yang rapi.”Oh ya….apa ibumu cerita, soal kedatanganku dan Pak Tarno.””
Veasna menggeleng,”kapan….?”

“Dua hari yang lalu, Pak Tarno khawatir melihatmu absen selama 3 minggu. Dan dia mengajakku menemaninya datang kerumahmu.” Kakinya menendang kerikil didepannya. “Pak Tarno itu baik dan sangat perhatian pada anak didiknya….”timpalnya lagi sambil matanya menerawang.

“Iyakah…..”jawab Veasna pendek.

Bunyi lonceng berbunyi, memutus pembicaraan mereka. Keduanya lalu bergegas masuk kekelas.

Pak Tarno, senang saat melihat Veasna duduk disebelah Zamrony. “Bapak senang kamu kembali lagi kesekolah. Dan kalau kamu ada masalah, bapak harap kamu datang menemui bapak, siapa tahu bapak bisa bantu.” Katanya pada Veasna.

“Baik pak” jawab Veasna tersenyum, ia seperti menemukan seorang bapak pada diri Pak Tarno.

Meskipun hampir sebulan, ia tak masuk sekolah. Veasna tak mengalami kesulitan sedikitpun, ia dapat beradaptasi dengan cepat. Soal matematika yang berikan Pak Tarno hari itu dikerjakannya dengan mudah. Teman-temannya sampai melongo. 

“Siapa yang mengajarimu, Veas….” Tanya Alisa dan Zamrony.
“Tidak ada, aku belajar sendiri.”

“kalau begitu, kita belajar bareng. Sepulang sekolah kita bisa belajar dirumahku” kata Alisa serius, yang disertai anggukan Zamrony.

Veasna hanya memberikan senyumnya.”Maaf…..aku tak bisa”
“Kenapa? Ah…nggak nyangka kamu pelit, tidak mau berbagi ilmu sama teman” tuduh Alisa tajam.

“Bukan begitu…..soalnya sepulang sekolah, aku harus bekerja.” Kemudian dia menceritakan dimana dia bekerja.

Alisa buru-buru minta maaf padanya. “Bagaimana saat istirahat saja. Matematikaku amat buruk, aku tidak mau ibu dan ayah selalu memarahiku soal itu. Kamu mau menolongku, kan Veas.” Pintanya berharap

“Baiklah…..”

Senyum manis Alisa mengembang. Zamrony yang melihatnya sampai takjub. Dia terpesona, sampai lupa menutup mulutnya. Veasna menyenggol lengannya “tutup mulutnya, ntar lalat masuk, lho……” dia terkekeh. 

Sepulang sekolah, Veasna langsung menuju ke Warung Makan Pak Mul dengan berjalan kaki. Jaraknya tak begitu jauh dari sekolahnya. Tanpa disadarinya, diam-diam seseorang mengikutinya dari belakang.

***
“Veasna, sebaiknya kamu makan dulu”
“Sebentar dulu pak, saya menyelesaikan pekerjaan ini dulu.” Jawab Veasna.

Pak Mul senang dengan pekerjaan Veasna. Selain rajin, dia juga cekatan, jujur dan pintar mengatur waktu. Saat tak ada piring yang dicucinya. Tanpa diminta dia membantu pekerjaannya didapur atau membantu istrinya melayani pembeli didepan. Sejak kehadiran Veasna, pekerjaan mereka jauh lebih ringan sekarang. Anak itu tak pernah mengeluh, semua pekerjaannya dilakukan dengan senyum dan semangat tinggi. 

Suatu hari, istri pak Mul pernah melihat Veasna membungkus ayam kecap jatah makannya. Dan ia hanya memakan nasi bersama sayur.Ketika ditanya,oleh istrinya, untuk siapakah ayam itu. Jawaban Veasna membuat mata istri Pak Mul mengembun. “Untuk Kya dan Kissa, bu, adik kembar saya. Mereka sangat menyukai ayam kecap.” Makanya dia dan istrinya sangat sayang padanya. 

“Veasna, ayo makan, sebentar lagi akan banyak tamu datang. Ibu baru mendapat telepon” kata Istri Pak Mul.

“Ia..bu…” Veasna lalu bergegas makan.

Jam 10 malam, tamu terakhir pulang. Veasna begitu lega. Mereka tadi sibuk sekali melayani pembeli. Setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia pamit pulang pada Pak Mul dan istrinya.
Dan ia sangat gembira, menerima hadiah dari Pak Mul.sebungkus ayam kecap untuk sikembar dan sebuah amplop ditangannya. “Terimakasih…kamu sudah bekerja keras hari ini. Besok jangan lupa, kerja disini lagi….”

“Siap pak”

“Oh ya….ada seorang bapak menunggumu didepan.” Kata Pak Mul.
“Siapa pak” Tanya Veasna. Ia tak mengenal orang,selain Pak mul dan istrinya.
“Katanya, dia gurumu, namanya….kalau bapak tak salah…Pak Tar…..”
“Pak Tarno??” Veasna menautkan alisnya. “Saya pamit pulang dulu pak.” Timpalnya lagi.
Pak Mul dan Bu Mul tersenyum.

Veasna terpaku saat melihat Pak Tarno, berdiri didekat tiang listrik, disamping warung tempatnya bekerja. Hatinya bertanya-tanya ada apa gerangan sampai Pak Tarno menemuinya larut malam begini.

“Maaf….apa bapak mencari saya, ada apa ya pak?” Tanya Veasna pelan.

“Bapak hanya ingin memberikan sepeda ini padamu, Veas. Supaya kamu tidak capek berjalan. Supaya kamu cepat sampai dirumah, biar ibu dan nenekmu tidak khawatir.”
Kata Pak Tarno. Sambil memberikan sepeda gunung baru padanya. 

Keharuan menyelimuti dirinya. Dada Veasna sesak. Ditubruknya Pak Tarno. Di pelukannya dia menangis sukacita. “Terimakasih pak…..”

“Lekaslah pulang, besok jangan lupa datang kesekolah lagi.”Kata Pak Tarno.
“Baik pak” Veasna mencium tangan gurunya itu takjim. Rasa kangen terhadap sosok bapaknya memuncak.
Pak……Veasna kangen bapak….ucapnya dalam hati.








Comments

Post a Comment

Tulisan Beken