Passion #3



 

Ketahuan

Akhir Januari yang dingin. Dengan perasaan gelisah Mandika mengikuti kemana arah anaknya pergi. Perempuan itu semakin curiga, takkala anaknya, Veasna masuk ke dalam kamar mandi umum, kemudian keluar dengan berganti pakaian badut. Dia tampak terburu-buru sekali, dan bergegas menyetop angkutan umum. Sebelum terlambat. Mandika memanggil tukang ojek, yang berada tak jauh darinya.

“Cepat…pak….cepat ikuti angkutan itu…” kata Mandika tak sabar.
“Iya…bu, sabar. Saya segera menyusulnya?” 


Setelah 15 menit berlalu, angkutan umum yang di tumpangi Veasna berhenti di sebuah taman bermain. Mandika terus mengikutinya….dan melihat anaknya bergabung dengan dua orang temannya, dan memandu acara ulang tahun seorang anak. Ada dua jam mereka disitu. 

Setelah itu Veasna kembali pergi menggunakan angkutan umum dan berhenti didepan sebuah warung makan. Saat Mandika akan membayar ojek. Dilihatnya Veasna sudah menghilang. Mandika kebingungan, dia mencari Veasna kesana kemari.

“Coba ibu masuk saja kerumah makan itu, siapa tahu…anak ibu bekerja disana” kata pak Ojek.

Mandika mengangguk. Dia membuka dompetnya, uangnya tinggal 10 ribu rupiah. Mana cukup untuk membeli makanan disana. Perempuan paruh baya itu berpikir keras. Kemudian ada rombongan keluarga yang masuk ke dalam rumah makan. Perempuan tanpa sungkan turut dibelakang mereka. Saat mereka mencari tempat duduk, dia pura-pura kebelakang- menuju dapur. Dan dia ternganga saat melihat Veasna, putra kesayangannya berdiri didepan wastafel. Tangan kurusnya sibuk mencuci piring. Hatinya terluka. Dia bergeming untuk beberapa saat.Ingin sekali dia menarik Veasna keluar, namun hal itu tak dapat dilakukannya.

“Maaf bisa dibantu bu?”

Tanya seorang karyawan perempuan disana, dengan wajah dingin.
“Oh…maaf…saya mau ketoilet” Mandika berbalik arah.menuju pintu keluar. Dia sabar menunggu Veasna sampai usai bekerja.Meskipun rasa penat mulai menjalari tubuhnya. Ia mengerti sekarang, kenapa Veasna selalu pulang dalam keadaan lelah. Nalar Mandika terbuka, hatinya sakit saat mengetahui anaknya berbohong padanya. Airmatanya meleleh. Susah payah dia bekerja untuk sekolah anaknya. Dan Veasna mengelabuinya.

Tepat jam 11 malam, Veasna keluar.

“Veasna…..” 

suara Mandika pelan, namun ditelinga Veasna seperti halilintar. Anak itu menoleh, dan mundur beberapa langkah ketika tahu, ibunya berada dibelakangnya. Tak ada alasan lagi baginya untuk mengelak. 

“Ibuuuuuuu…..mmmaaaaaffff….Veasna…berbohong…” Veasna mengucapkannya dengan terbata-bata.

“Ayo kita pulang, jelaskan nanti sesampainya dirumah.”

Veasna mengangguk pelan, dan mengikuti langkah ibunya. Mereka berjalan beriringan pulang, dalam hening. Tak ada yang berbicara. Disana hanya terdengar suara langkah kaki dan suara binatang malam yang terdengar. Hari sudah larut, dan angkutan umum sudah beristirahat diistananya.

Dirumah, nenek kelihatan tidak tenang. Wanita tua itu merapatkan kain ketubuhnya, menghalau rasa dingin yang menusuk tulang. Matanya tersirat kekhawatiran yang dalam pada menantu dan cucunya.

“Kemana mereka berdua. Ya Tuhan….tolong jaga mereka.” Doanya perlahan.

Tok..tok…tok

“Siapa itu….?” Tanya nenek, saat mendengar suara ketukan pintu.
“Veasna dan Ibu nek….” Sahut Veasna.

Nenek segera membukakan pintu untuk mereka. Wajahnya langsung berubah berseri.”Kalian kemana saja, nenek begitu khawatir?”

Mandika, yang sejak tadi menahan emosi, lantas menangis, membuat ibu mertuanya bingung.
“Ada apa Mandika, kenapa kamu menangis?

“Veasna selama ini membohongi kita bu, diasudah lama tak bersekolah, tapi bekerja!!”
Nenek menaikkan kedua alisnya, “betulkah apa yang dikatakan ibumu, Veasna?” matanya menatap tajam cucunya.

Veasna menunduk. “ia nek, Veasna ingin membantu ibu, Veasna tak ingin menambah beban ibu” Ia semakin menunduk menekuri kuku jarinya yang kotor.

PLAAKKKKKKK

Tangan Mandika seketika mendarat di pipi anaknya. Mertuanya terkejut dan melindungi Veasna dalam pelukannya.

“Kamu tak boleh sembarangan menampar anakmu, Mandika. Veasna pasti punya alasan kuat, kenapa dia berbuat begitu.”

Nenek berusaha bijak. Ini pertama kalinya ia melihat menantunya sangat marah.
Mandika tak terima ibu mertuanya membela Veasna. Rasa lelah dan frustasi setelah kepergian suaminya, seketika luruh. Airmata perempuan itu semakin deras. 

“Ibu…..saya bekerja dari pagi sampai larut malam, untuk siapa? Untuk menghidupi kita dan sekolah anak-anak. Ibu tahu itu. Mandika tak pernah mengeluh, meskipun mandika lelah. Karena Mandika ingin mewujudkan cita-cita ibu dan suami, supaya Veasna bisa sekolah, dan nantinya bisa memperoleh pekerjaan yang layak. Sakit hati ini bu, saat melihat tangan kecilnya sibuk mencuci piring kotor di dapur.” Mandika menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Veasna menubruk ibunya. “maafkan Veasna bu….Veasna tahu, Veasna salah….tapi….Veasna melakukannya karena kasihan dengan ibu. Veasna ingin membantu ibu. Tak apa Veasna berhenti sekolah. Masih ada Kya dan Kissa.”

Ibu menggelengkan kepalanya.

“Tidak nak….kamu harus sekolah. Ibu dan nenek ingin melihatmu sukses. Kalau kamu sukses, kamu bisa bantu adik-adikmu kelak.” Mandika membelai kepala anaknya.

“Ibumu benar, Veasna harus sekolah. Kita jangan menyerah oleh keadaan.”







Comments

Post a Comment

Tulisan Beken