Teman Spesialku, Ical




 “Halo..namaku Ical” sapa Ical ramah di depan kelas. Senyumnya lebar menatap teman-teman barunya di kelas 5B SDN Fajar. Teman-temannya menatapnya dengan pandangan aneh. Mereka lalu saling berbisik. 


Kemudian Bu guru Mutia menyuruhnya  duduk di bangku belakang, bersama Fadil. “Jangan dekat-dekat, ada anak raksasa disini” kata Raka mengejek Ical. Dia tertawa terbahak-bahak, sambil menirukan cara Ical berjalan. Anak-anak tertawa melihat tingkahnya”

 “Tolong tenang anak-anak”Bu guru Mutia, menenangkan suasana kelas yang menjadi ramai.
“Ical…tolong maafkan teman-temanmu. Dan Kamu Raka…kamu tidak boleh berkata begitu.”
Icam hanya mengangguk, tak menanggapi ejekan teman-temannya. Sebab ia sudah terbiasa dibulli.

Ical memang berbeda. Ukuran telapak kaki kiri dan jari tangannya tumbuh besar, melampaui teman sebayanya, bahkan jauh lebih besar dari ukuran orang dewasa. Sampai ia kesulitan untuk memakai sepatu. Sehingga ke sekolah hanya bisa memakai sandal jepit. 

Icam tersenyum pada fadil, teman sebangkunya. Ia lalu mengeluarkan pensil dan buku dari dalam tasnya. Dan focus belajar, tak memperdulikan tatapan aneh teman-temannya.

“Kamu sakit apa?” tanya Fadil setengah berbisik.
“Macrodactyly”

Fadil menggeser badannya, dan meminta ical untuk mengulanginya lagi. Kata-kata itu terdengar sangat asing ditelinganya. Macro….dac..ty…ly…….penyakit apakah itu? Fadil mengaruk-garuk kepalanya tak mengerti.Sepulang sekolah ia nanti akan bertanya ayah.
Lonceng istirahat berbunyi….

Anak-anak berhamburan keluar kelas. Fadil mengajak Ical bermain. Dan bertemu Raka diluar. Bersama teman-temannya, Raka terus mengejek Ical dan mengajak teman-temannya untuk menjauhi Ical.

“Jangan dekat-dekat, nanti ketularan penyakitnya. Hiiiiiiiii” Raka tak henti terus mengolok-olok Ical.

Fadil sampai jengkel melihat tingkah Raka yang kelewatan.

“Apa kamu tidak marah sama Raka” Fadil memakan kue pemberian Ical. Kue risoles isi ayam. Rasanya enak sekali.

“Untuk apa marah? Biarkan saja….” Mata Ical memperhatikan teman-temannya yang sedang berlatih paduan suara.

Fadil diam-diam memperhatikannya.

***
Minggu pagi…..

Fadil bermain dirumah Ical. Matanya terbelalak saat melihat ada banyak piala berderet rapi disebuah almari. Dari tingkat kabupaten sampai propinsi. Wow! Fadil bergumam sendiri.
“Aku tak sangka kamu jago nyanyi…”

“Kata ibu, Tuhan itu adil, semua mahluknya diciptakan special. Aku memang berbeda dari kalian, sebagai gantinya Tuhan memberiku suara indah.” Jawab Ical dengan senyum lebar. Ia selalu teringat kata-kata yang selalu diucapkan oleh ibunya. Ibunya selalu memberinya semangat untuk tidak minder atau marah saat dia dibulli.

Fadil mengangguk-angguk. Dia mengerti sekarang, kenapa Ical begitu percaya diri dengan keadaannya. Dan dia memiliki sebuah rencana.

Esok paginya, teman-teman disekolah gempar. Mereka membicarakan video yang diunggah Fadil diyoutube. Dimana Ical menyanyikan lagu You raise me up dengan suara merdunya. Sehari saja, video itu sudah ditonton lebih dari 200 ribu orang dan selalu bertambah dalam hitungan menit.

Ical menjadi buah bibir, bukan hanya teman-temannya tetapi juga guru. Beberapa hari kemudian. Ical diundang stasiun televisi. Ical mengajak Fadil. Dan Raka…..sejak saat itu tak berani lagi mengolok-olok Ical.

“Semua orang itu dilahirkan special, Raka” kata Fadil menirukan kata-kata Ical.








Comments

Post a Comment

Tulisan Beken