My Sweet Plump Girl Bag 4




“Aku ingin mengalahkan Rulli, mas.” 

“APPPAAAAAA……..” kata Mas Sapto dan Rulli bersamaan. Tak percaya dengan perkataan Rasta.

“Gila lu Ras, gue nggak sangka pikiran lu kerdit amat. Gue tulus mencintai Nunung. Kenapa lu ingin ngalahin gue. Nunung bukan barang mainan, yang perlu diperebutkan. Dia manusia punya rasa dan hati” Kata Rulli setengah emosi.


“Gue iri sama elu Rul, Banyak cewek yang suka sama elu. Dari Ajeng, Laila, Ita sama Maria. Semua cewek itu yang gue demenin. Kenapa nggak satupun dari mereka yang ngelirik ke gue. Apa lu nyadar, gue sobatan sama elu supaya cewek-cewek kenal gue. Sebenarnya gue nggak suka sama elu Rul! Mata Rasta berapi-api mengatakannya.

Mas Sapto menahan nafas, dan melirik Rulli disampingnya yang tengah memainkan korek api dengan memutarnya.

“Rasta, apa kamu sadar telah menyakiti hati seseorang. Dan mas sangat kecewa pada kalian berdua. Hanya karena wanita, kalian pertaruhkan persahabatan.” Mas Sapto berusaha sebijak mungkin.

Rasta sepertinya tak mendengarkan, dia mendengus, kemudian pergi tanpa pamit. Sedang Rulli, berusaha setenang mungkin. Bila tak ingat mas Sapto….dia mungkin akan bertindak kasar pada Rasta. Dia pantas sakit hati mendengar kejujuran sahabatnya. Ternyata persahabatan mereka selama ini hanya pura-pura. 

Rulli menarik nafas berat. Sikap buruk Nunung padanya terjawab sudah. ia mengerti sekarang, kenapa sikap Nunung berubah. Tiba-tiba gadis itu membencinya, tanpa ia tahu penyebabnya. Pasti ada campur tangan Rasta. Siapa lagi kalau bukan dia.

Malam itu juga, Rulli memutuskan hengkang dari kontrakannya. Saat dia mengemasi pakaiannya. Ajeng datang. Gadis itu berdiri pongah dengan melipat kedua tangannya diatas dada. Matanya sinis menatap Rulli yang tak memperhatikannya.

Ajeng menunduk dan menepuk pelan pundak Rulli. Lelaki itu menoleh.

“Cemen lu Rull, baru ditikung temen saja sudah mewek!! Lu sama saja seperti Rasta. Emang dengan lu pindah kontrakan, semua akan selesai? Nggak kan? 

Rulli terduduk dan badannya bersandar pada almari. Dia memandang Ajeng cukup lama, sampai membuat gadis itu kikuk. Seperti yang Rasta bilang, Ajeng memang cantik, rambutnya tergerai panjang, wajahnya mulus tanpa noda dengan make up yang selalu rapi dan parfum yang melekat kuat dibadannya yang bak bintang model terkenal. Tapi…meskipun lama dia menatapnya, tak ada sekalipun dia tertarik. Sangat berbeda dengan Nunung. Lelaki itu mendesah pelan. Tangannya mengusap wajahnya yang kusut.

“Apa pedulimu….”sahut Rulli pedas.

Ajeng tersenyum kecut, lalu duduk bersimpuh disamping Rulli. Lelaki itu menghirup pelan, wangi parfumnya.

Ajeng menyibakkan rambutnya dan menelengkan kepalanya menghadap ke Rulli.

“Gue peduli, karena gue cinta elu Rul! Apa elu tahu, gue tiap hari dandan seperti ini, untuk menarik perhatian elu. Sayangnya elu cuek, elu hanya memandang gue bentar, seperti gue alien. Dan elu lebih memilih mencintai perempuan lain. Jujur gue cemburu berat, apalagi setelah tahu cewek seperti apa yang elu sukai”. Ajeng tersenyum kecut. Tak ada lagi yang perlu disembunyikannya. Mereka sama-sama dewasa.

Rulli menggenggam tangan Ajeng.

“Maafkan gue, Jeng. Selera gue mungkin yang diatas normal” Ajeng memang baik dan tampak sempurna, namun cintanya sudah terenggut oleh Nunung.

Ajeng terkekeh. “Keknya elu kurang piknik deh Rul” ia memukul lengan Rulli pelan. “Jadi….please kasih tahu gue, supaya bisa mencegah elu pindah dari sini.” Mata Ajeng mengerjap-ngerjap penuh harap. 

Diluar kamar Rulli, Mas Sapto harap-harap cemas. Dia tadi yang menelpon Ajeng supaya mencegah Rulli pindah kontrakan.

“Sorry…keputusan gue sudah final”

Ajeng cemberut. 

“Kagak bisa Rul….kamu harus tetap disini” Kata mas Sapto tiba-tiba. Ia bakalan kangen dengan nasi goreng Rulli. Dan itu seperti bencana baginya.

“Nggak bisa mas…..Rulli sudah bayar full, sayang uangnya nanti”

“Biar gue ganti deh Rul…..”kata Ajeng pelan. Wajahnya menunduk tak berani memandang Rulli. Ia tahu Rulli bakal menolak idenya.

“Ajeng, kalau gue disini terus, elu nggak bakalan dapat pacar. Lebih baik kita jauhan. Toh kontrakan gue dirumah Wak Hamid kok” tanpa sadar, Rulli keceplosan bicara.Ia menutup mulutnya,


Ajeng terperanjat, tak sadar tangannya  menyenggol kepala mas Sapto sampai terbentur meja disampingnya. Mas Sapto meringis mengusap kepalanya.

“HAHHH……!!Busyet…gimana ceritanya.” Tanya mas Sapto antusias. Ia kaget luar biasa. Tadi dia mengira Rulli pindah kontrakan karena patah hati. Ternyata dia salah besar.

“Sebenarnya Wak Hamid menawariku sudah lama sekali. Tapi baru kali, aku bersedia.”

Senyum Rulli mengembang. Persahabatannya yang retak, malah membukakan pintu untuknya untuk dekat dengan Nunung. Dia juga bisa mewujudkan impiannya membuka warung kopi miliknya. Dan Wak Hamid sangat mendukung rencananya itu.

“Jadi…kalian nantinya bakal tinggal satu rumah, begitu?” Suara Ajeng gagap, membayangkan Nunung dan Rulli tiap hari berdekatan.

“Gue nempatin bekas toko Wak Hamid didepan rumahnya.”

Ajeng dan mas Sapto melongo. 

***

Nunung tercengang dengan kedatangan Rulli. Apalagi dia membawa tas besar. Matanya curiga “ngapain kamu kesini malam-malam begini?”

“Aku ngontrak disini….” Jawab Rulli singkat, pura-pura tak peduli.

“Maksudnya….” Tanya Nunung, gadis bertubuh subur itu menghalangi langkah Rulli.
“Apa perlu kujawab lagi, nih kuncinya kalau masih tak percaya.” Rulli memperlihatkan kunci ditangannya, Dan meminta Nunung minggir. Dan membuka pintu toko.

Nunung tak peduli, dia menghalanginya. “Nggak bisa….kamu nggak bisa ngontrak disini….” Gadis itu protes. Rulli menunggu, sabar.

Suara Nunung, rupanya membangunkan neneknya. Wak Hamid keluar. “Nung….biarkan Nak Rulli masuk. Nenek yang memintanya tinggal disini….”kata Wak Hamid. 

Merasa menang, Rulli menjulurkan lidahnya.”Tuh kan….aku nggak bohong.” Cepat-cepat dia membuka pintu dan segera menutupnya. Sebelum Nunung mengikutinya.

Nunung menghentakkan kakinya. Nenek tak pernah membicarakan soal ini padanya. Sambil bersungut, gadis itu masuk kerumah dan merebahkan badannya diatas pembaringan dengan hati dongkol.

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken