My Sweet Plump Girl Bag.3




Rasta girang, mengetahui Rulli membawakannya sekotak roti goreng. Dia memang kelaparan. Tanpa ragu dia segera menggigitnya dalam gigitan besar, mengunyahnya dan menelannya dengan nafsu 1…2..3 Rulli menghitung dalam hati. Lelaki itu memandang Rasta dengan tatapan aneh.


Kemudian mata Rasta melotot.Mulutnya berdesis menahan pedas yang teramat sangat .Lalu meraih gelas kopi yang masih mengepul dan langsung meminumnya….”huaaaaaa….panas..panas….” Rasta mengipasi mulutnya yang kepanasan. Dia kebingungan mencari air minum. Sayangnya air minumnya habis, sebagai gantinya….dia kekamar mandi dan meminum air kran. 

Rulli tak beranjak dari duduknya, dan enjoy menikmati roti gorengnya, matanya tak lepas dari layar tivi. Hatinya bersorak, syukurin lu.

“Rul….lu mau gue diare?” Rasta kesal melihat Rulli asik memakan roti goreng, tanpa merasakan sensasi apapun seperti dirinya.

“Jiahhhh….lu kagak nanya dulu,langsung main comot” Rulli pura-pura bersikap manis. Padahal dia memang sengaja telah mencampur adonan roti dengan bubuk cabe yang dibelinya dipasar. Sebab, dia tahu, selera sahabatnya berlebihan saat melihat makanan. Baginya itu sebuah kompetisi. Siapa cepat dia dapat. 

“Lu nggak kerja…..Rulli berdiri, dia heran Rasta masih santai dengan kebanggaannya, celana kolor dan kaos oblong bergambar upin ipin. Tuh anak memang unik. Hobbinya nonton filem kartun upin dan ipin.

“Nggak…gue tukar shift dengan Nanda” 

Rulli menaikkan alisnya. Dia ingin tahu tapi enggan bertanya. Dan bergegas, ke tempat kerjanya, sebelum Pak Paiman memberinya SP, gegara suka datang telat.

Iseng dia mengambil jalan memutar, supaya dapat melewati rumah Wak Hamid. Didepan rumah Wak Hamid, pelan-pelan dia membawa motornya, berharap bisa melihat gadis pujaannya yang telah mengambil seluruh mimpinya.

Doanya terkabul. Nunung terlihat sedang menyiram bunga dihalamannya. Rambut panjangnya diikat ekor kuda. Wajahnya berseri, menyilaukan mata Rulli…sampai……….

BRUKKKKKKK……..

Saking seriusnya melihat Nunung, Rulli tak memperhatikan ada batu besar didepannya. Karena terkejut dan tak siap. Motor Rulli oleng, dan iapun sukses terjatuh.

Melihat Rulli jatuh….Nunung mendatanginya. “Kamu nggak apa-apa kan, Rul?”tanyanya cemas. Gadis itu memeriksa pergelangan kaki Rulli yang berdarah.

Bau lavender parfum Nunung telah membiusnya, sampai ia kehilangan kata-kata. Mata Rulli tak berkedip menatap Nunung. Lelaki itu sadar setelah Nunung menguncang badannya keras.
“Rul……sadar dong!” Nunung khawatir, takut Rulli kenapa-kenapa.

“Halah…bohongan dia tuh……” Rasta tiba-tiba muncul dihadapan mereka.

Rulli melengos, melihat Rasta berpakaian rapi. Seperti jailangkung saja nih anak. “Ngapain lu kesini……bukannya kamu shift malam?”  kelihatan sekali Rulli tak suka dengan kedatangan Rasta.

“Terserah gue dong” jawab Rasta cuek. Kemudian dia berkata kepada Nunung ”Kita berangkat jam berapa..…”

Rulli terkejut, dan memandangi mereka bergantian. Ia diserang rasa cemburu berat. Rasta kelewatan. Dia sama sekali tak emphatic dengan perasaan sahabatnya sendiri.Tanpa memperdulikan rasa sakit pada pergelangan kakinya, dia berdiri dan menyalakan motornya.
Nunung mencegahnya,”Tunggu Rul….biarkan aku obati dulu kakimu”

Rulli tersenyum manis. Tapi….dia sudah muak berada didekat Rasta.”Makasih….biar kuobati sendiri dikantor.”

“Sudah…biarkan saja dia, toh dia sudah gede, sudah bisa mengobati kakinya sendiri.”
“Hih…..kamu kok gitu sih Ras…nggak berperasaan sama sekali.” Timpal Nunung pedas. Dia langsung masuk kedalam rumah.

Rasta mendekati Rulli…..”Kita saingan sekarang bro, gue memutuskan untuk merebut hati Nunung….”

Jantung Rulli berhenti seperkian detik. Sejak kapan Rasta menyukai Nunung?
“Oke…..kita bersaing. Siapapun pemenangnya harus legowo.” Kata Rulli kemudian. 

***

Mas Sapto geleng-geleng kepala, mengetahui persahabatan Rulli dan Rasta yang retak. Mereka saling menghindar. Tak lagi bertegur sapa. Tempat kost, sepi seperti kuburan, gegara tak ada perdebatan antara mereka berdua. Persahabatan mereka memang abnormal. Seperti Tom and Jerry. Mas Sapto jadi gelisah, karena tak ada pertunjukkan lagi yang harus ia tonton. Sebagai ketua geng yang merangkat bendahara arisan disana. Dia harus mendamaikan mereka. Sebelum kawan-kawannya unjuk rasa.

Maka….dia mengambil keputusan untuk memanggil mereka berdua ke kamarnya.
“Tahu tidak…kenapa kalian dipanggil kesini….”suara Mas Sapto dibuat segalak mungkin.
Mulut Rulli dan Rasta sama-sama terkunci. Mas Sapto jadi gemas, ingin menjewer telinga keduanya.

Mas Sapto menunggu mereka bicara, sambil leyeh-leyeh di lantai. Lalu Rulli menyanyi lagu nina bobo. Semilir angin sepoi-sepoi dan suara Rulli yang merdu membuat mas Sapto merasakan déjà vu. Rasa kantuknya mulai datang. Beberapa kali mas Sapto menguap. Ia berusaha untuk menahan kantuknya, namun ia kalah. Tak berapa lama kemudian, terdengar dengkuran lembut dari mulut mas Sapto.

Rulli mesem, dan menggeser pantatnya pelan-pelan, keluar kamar. Rasta mengikutinya.
“Rulli, Rasta….kalian mau kemana, heh…..” 

Mereka berdua keder dengan sapu ditangan Mas Sapto. Meskipun Mas Sapto dikenal baik, tapi dia kalau marah sungguh menakutkan.

Kedua laki-laki sama-sama meringis…..dan kembali ke kamar Mas Sapto.





Comments

Post a Comment

Tulisan Beken