My Sweet Plump Girl Bag 1




Siang yang terik, duo sahabat, Rulli dan Rasta duduk diatas amben dibawah pohon kersen yang sedang berbuah lebat. Tempat itu adalah favorit mereka dan anak-anak kost lainnya. Selain tempat berkumpul, disitu juga tempat ngeceng. Tempartnya memang strategis. Berhadap-hadapan dengan pintu masuk Garment, sehingga mereka leluasa cuci mata dengan karyawan Garmen, yang kebanyakan nona-nona cantik.


Pekerjaan anak kost disitu rerata sebagai sales lepas. Ada sales sepatu, minuman bahkan obat kuat. Hanya Rulli dan Rasta yang bekerja sebagai satpam.

Kruk….kruk…..cacing diperut Rasta sedang berpesta pora, bernyanyi tentang makanan dengan gaya rap.

 “Rul…..kita pergi ke rumah Wak Hamid yuk.”
“Males gue, lu aja yang kesana.” Jawab Rulli ogah. Ia tahu Rasta kesana, semata-mata ingin mendapatkan makanan gratis. 

Wak Hamid, tinggal sendirian. Dan hobbinya memasak. Selama ini Rulli dan Rastalah yang beruntung karena sering mendapatkan makanan dari Wak Hamid, yang ramah tidak pelit dan tidak sombong.

Perkenalan tanpa sengaja, saat Rulli membantunya menyeberang jalan. Sebagai ungkapan terimakasih. Wak Hamid memintanya datang kerumahnya. Rulli mengajak sahabatnya, Rasta. Dan disana mereka dijamu dengan makanan enak. 

“Ayolah bro, duitku lagi cekak neh….”bujuk Rasta sambil merengut. Setengah gajinya kemarin, sudah dikirimkan ke kampong buat bayar sekolah adiknya. Sehingga dia harus bener-bener ngirit, supaya tak kelaparan.

“Ogah….” Dengan suara sengak. Rulli berdiri, dan melangkah menuju kamarnya. Tanpa memperdulikan gerutuan Rasta. Masa bodo! Badannya capek sekali. Sesuatu yang sangat diinginkannya adalah tidur! Mumpung libur.

Dia baru terbangun sekitar jam 6 sore. Itupun karena Rasta menggedor-gedor pintunya. Tidurnya nyenyak sekali. Kini badannya jauh lebih segar. Rulli membukakan pintu Rasta.

“Busyet! Lu tidur apa pingsan? Suara gue sampe serak begini, panggil panggil elu….”katanya sewot dan langsung duduk di lantai, dan memberikan bungkusan plastic padanya.

“Apaan, nih…? Rullu mengintip isi plastic. Dan membukanya. Matanya berkilauan saat melihat sebungkus nasi beserta lauk telur dan tempe. Bukan itu saja, ada gorengan dan keripik nangka. 

“Dari Wak Hamid, dia tadi nanya elu” Tanpa basa basi, tangan Rasta membuka keripik nangka dan akan memakannya. Tetapi tangan Rulli segera merampasnya. Rasta mendelik.
“Eitsss…..itu punyaku. Enak saja diambil” katanya dengan tawa berderai. Dia suka menjahili Rasta.

Sementara Rulli makan dengan lahap. Rasta tidur-tiduran, sambil menonton siaran televisi.
“Cucu Wak Hamid datang.” Rasta mulai bercerita.

Rulli melihatnya sekilas, dan melanjutkan makananya. “Cewek apa cowok”
“Cewek……”jawab Rasta singkat. Matanya tak beralih dari layar televisi.
“Cantik kagak?” Rulli heran, tak seperti biasanya Rasta kalem saat bercerita soal cewek. Biasanya dia yang paling heboh.

“Lu lihat aja sendiri besok.” Kata Rasta malas. Membuat Rulli semakin penasaran.
“Eitssss…..sekarang aja! Tanpa membersihkan bekas makanannya. Rulli menarik tangan Rasta keluar kamar, dan mengajaknya kerumah Wak Hamid.

“KAMPRET” Cowok gempal itu, meninju lengan sohibnya. 

Rulli cengengesan, “Santai bro, ntar gue belikan rokok deh…!” kata Rulli sambil menyalakan motor maticnya.

Yang disambut Rasta dengan sukacita.“Nah gitu dong, elu memang sahabat gue yang paling baik.”


***

Dari balik rerimbunan tanaman sepatu, Rulli dan Rasta, keduanya mengamati rumah Wak Hamid. Rasta yang belum mandi, blingsatan badannya digigitin nyamuk. Hampir setengah jam mereka disana. Tapi rumah Wak Hamid sepi, tak ada suara televisi yang biasanya terdengar keras.. Rulli melirik jam tangannya. Baru pukul setengah delapan malam, lampunya juga mati. Aneh!  Ia tahu kebiasaan Wak Hamid, yang sangat menyukai sinetron Turki yang diputar pada jam segini.

“Kita samperin aja yuk, gue nggak rela badan gue dibuat mainan oleh nyamuk.” Protes Rasta.
“Sssttttt…..sebentar” Rasta mendengar suara mencurigakan dari rumah Wak Hamid. Kemudian memberi kode pada Rasta untuk mengikutinya. Kaki mereka berjinjit mendekati rumah Wak Hamid. 

Sesampainya disana, pelan-pelan Rulli membuka pintu yang ternyata tidak terkunci, kemudian…BUKKKKKKK…..Rulli merasakan benda berat mendarat dikepalanya. Seketika cowok itu roboh. Rasta yang berada dibelakangnya kaget, saat menyadari sahabatnya terkapar tak berdaya.

Tek…..lampu menyala.

“Lho…..bukannya kamu yang tadi siang?” Kata seseorang berbisik ditelinga Rasta.
Rasta melotot pada perempuan bertubuh besar. “Iya…..ini aku Nung, kamu kira kami maling apa?”

“Siapa itu cuk…..”Suara Wak Hamid terdengar dari kamarnya.

“Oh…..temen Nunung nek.” Nunung mendatangi kamar neneknya. Setelah itu kembali ke ruang tamu. Dimana Rulli masih tergeletak dilantai. Dia membantu Rasta memindahkan Rulli disofa.
“Kamu apain tadi Nung, awas kalau ada apa-apa dengan dia, kamu harus bertanggung jawab!” Rasta melihat Nunung dengan kesal.

“Hih…..salah kalian sendiri, kenapa mencurigakan gitu masuk rumah orang, pake ngendap-ngendap segala.” Nunung tak mau kalah. Neneknya tertidur setelah dia pijitin.Saat dia hendak mengunci pintu depan, dia mendengar suara motor berhenti didepan rumahnya. Karena curiga, maka dia mematikan lampu. 

Rulli manggut-manggut mendengar penjelasan Nunung, dan cemas melihat sahabatnya masih belum siuman. “Terus, Rulli….mo diapain nih?” 

“Meneketehe…..”jawab Nunung asal. “Kita siram aja, gimana?” Membuat Rasta makin sewot.
“Hahahahhahaha…becanda.” Kemudian Nunung mengambil air, dan memercikkannya ke wajah Rulli sambil tangannya menepuk pelan pipi lelaki itu.

Tak berapa lama kemudian, Rulli sadar, dan untuk beberapa detik, mata mereka saling bertatapan.

“Bidadarikah…kamu?”



 Note fotodiambil dari pinterest











Comments

Post a Comment

Tulisan Beken